Beranda | Artikel
Mendidik Anak Mencintai Al-Quran
20 jam lalu

Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 28 Sya’ban 1447 H / 16 Februari 2026 M.

Kajian Tentang Mendidik Anak Mencintai Al-Qur’an

Mendidik anak agar menjadi sosok yang shalih dan shalihah pada zaman sekarang terasa berat karena rintangan dan hambatannya semakin kompleks. Godaan yang memalingkan anak dari kebaikan sangat besar. Dahulu, fasilitas hiburan sangat terbatas dan memerlukan waktu tertentu untuk mengaksesnya. Namun saat ini, segala macam tontonan tersedia kapan saja dan di mana saja karena fasilitasnya berada langsung di tangan anak-anak.

Pentingnya Membangun Benteng Spiritual

Di tengah gempuran tontonan yang dahsyat, orang tua harus berpikir untuk membangun benteng yang kuat bagi anak. Orang tua tidak mungkin terus-menerus membersamai anak selama dua puluh empat jam. Keterbatasan fisik dan waktu membuat orang tua tidak bisa mengawasi setiap pertemanan di sekolah maupun di lingkungan sosial lainnya. Terlebih ketika anak semakin dewasa dan harus menempuh pendidikan di tempat yang jauh, baik di pondok pesantren maupun perguruan tinggi di luar kota. Selain itu, umur manusia terbatas dan setiap orang tua pada saatnya akan meninggalkan dunia yang fana ini. 

Supaya anak tetap teguh menghadapi ujian, tantangan, dan godaan, mereka membutuhkan benteng pelindung. Salah satu benteng terkuat untuk anak dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla adalah kecintaan terhadap Al-Qur’an. Penekanannya terletak pada kata “cinta”, bukan sekadar kemampuan membaca.

Mengapa Harus Mencintai Al-Qur’an?

Kecintaan terhadap Al-Qur’an menjadi benteng yang sangat kuat untuk melindungi anak-anak dari hal-hal negatif. Ketika seseorang sudah mencintai Al-Qur’an, ia akan menjaga dan mengamalkan isinya. Di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk yang mendatangkan kebaikan dan perlindungan dari keburukan.

Seseorang yang sudah mencintai Al-Qur’an akan selalu merindukan firman Allah ‘Azza wa Jalla tersebut. Mereka akan membaca Al-Qur’an dengan penuh kesadaran, bukan karena paksaan atau tuntutan. Hal ini menjadi tantangan besar bagi orang tua untuk memastikan anak-anak lebih memilih berinteraksi dengan Al-Qur’an dibandingkan dengan perangkat gawai. Keberhasilan mendidik anak mencintai Al-Qur’an dimulai dari keteladanan orang tua dalam memprioritaskan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah Praktis Membangun Kecintaan Anak terhadap Al-Qur’an

Mewujudkan misi mulia agar anak mencintai Al-Qur’an membutuhkan langkah-langkah nyata agar membaca Al-Qur’an menjadi sebuah kebutuhan dan aktivitas yang menyenangkan. Terdapat empat langkah praktis yang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat dilakukan orang tua untuk mencapai cita-cita tersebut.

Langkah Pertama: Menjadi Teladan yang Nyata

Orang tua harus menjadi teladan yang nyata karena anak adalah peniru ulung. Penglihatan anak jauh lebih tajam daripada pendengarannya. Segala aktivitas yang dilakukan orang tua akan direkam oleh mata anak. Meskipun orang tua sering memberikan nasihat lisan mengenai pentingnya Al-Qur’an, keutamaannya, hingga membacakan ayat dan hadits terkait, anak akan tetap menilai melalui apa yang ia lihat.

Apabila orang tua sering memerintahkan anak membaca Al-Qur’an namun mereka sendiri lebih sering menghabiskan waktu dengan telepon genggam, akan muncul pertanyaan di dalam hati anak mengenai keistimewaan Al-Qur’an tersebut. Orang tua mungkin menyampaikan bahwa Al-Qur’an adalah penyelamat, pemberi syafaat, dan pendatang ketenangan hati, namun hal itu menjadi tidak selaras jika orang tua jarang memegang mushaf. 

Keteladanan jauh lebih kuat daripada seribu nasihat. Memberikan contoh yang baik jauh lebih efektif daripada berbicara berulang kali tanpa tindakan nyata. Oleh karena itu, tugas utama orang tua adalah menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai kegiatan rutin harian.

Konsistensi dan Adab dalam Membaca Al-Qur’an

Aktivitas membaca Al-Qur’an tidak perlu menunggu datangnya bulan Ramadhan, karena kesempatan hidup sepenuhnya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pembiasaan harus dimulai sesegera mungkin sebagai rutinitas harian. Anak perlu melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan dan menerapkan adab-adabnya, seperti berwudu, duduk menghadap kiblat, dan fokus pada mushaf.

Agar fokus terjaga, perangkat elektronik sebaiknya dimatikan atau disingkirkan supaya tidak terganggu oleh notifikasi media sosial maupun marketplace. Jika anak sering memergoki orang tuanya sibuk bermain game atau menonton hal-hal yang tidak bermanfaat melalui telepon genggam, akan sulit bagi anak untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Al-Qur’an.

Keberhasilan generasi awal Islam dalam mendidik anak-anak yang mencintai Al-Qur’an terletak pada keteladanan lingkungan keluarga. Kecintaan orang tua terhadap Al-Qur’an akan menular kepada anak-anaknya layaknya virus kebaikan. Setelah menjadi teladan yang nyata, 

Langkah Praktis Kedua: Menciptakan Suasana Yang Menyenangkan. 

Cinta hanya akan tumbuh dalam suasana yang indah, nyaman, dan tenang. Oleh karena itu, momen belajar Al-Qur’an harus dijadikan waktu yang dinantikan, bukan waktu yang menegangkan.

Suasana menjadi menegangkan apabila orang tua mengajar dengan mata melotot, volume suara tinggi, serta disertai bentakan. Bahkan, tidak jarang orang tua melakukan kekerasan fisik seperti mencubit atau menjewer. Hal ini sangat memprihatinkan ketika anak mengenal Al-Qur’an untuk pertama kalinya melalui kemarahan dan kekerasan. Tindakan tersebut akan membuat anak menganggap Al-Qur’an sebagai momok yang mengerikan, sehingga cinta sulit untuk tumbuh.

Memahami Proses Belajar Anak

Orang tua sering kali menuntut target yang terlalu tinggi kepada anak tanpa berkaca pada kemampuan diri sendiri. Kesalahan yang dilakukan anak saat membaca atau menghafal adalah bagian dari proses belajar. Kekeliruan merupakan tahapan wajar dalam perjalanan dari tidak tahu menjadi tahu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai fitrah manusia yang lahir tanpa pengetahuan:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun.” (QS. An-Nahl[16]: 78).

Setiap anak, baik putra seorang ulama maupun buruh tani, lahir dalam keadaan yang sama. Tugas orang tua adalah mendidik mereka agar memiliki pengetahuan. Dalam proses perpindahan dari ketidaktahuan tersebut, kesalahan dalam membaca atau kelupaan dalam setoran hafalan adalah hal yang manusiawi.

Kesalahan anak bukan untuk dibiarkan, melainkan dibenarkan dengan penuh kelembutan. Kelembutan tersebut tercermin dari raut wajah yang tenang, tidak menyeramkan, serta intonasi suara yang terjaga. Membentak bukanlah bagian dari kelembutan. Tangan orang tua seharusnya digunakan untuk merangkul dan memotivasi, bukan untuk menyakiti.

Memberikan Apresiasi dan Menghubungkan Al-Qur’an dengan Kehidupan

Mendidik anak dengan kelembutan berarti memilih kata-kata yang tidak menyakitkan hati. Kalimat yang merendahkan kemampuan anak harus dihindari karena dapat mematahkan semangatnya. Sebaliknya, orang tua dapat memberikan apresiasi atas usaha mereka, misalnya dengan berkata, “Alhamdulillah, Bapak dan Ibu sangat senang kamu sudah berusaha. Jika terus berlatih, bacaanmu pasti akan semakin lancar.”

Penting bagi orang tua untuk memberikan apresiasi atas setiap prestasi anak, meskipun prestasi tersebut tampak kecil, seperti kemampuan membedakan huruf nun dan ba. Pujian yang tulus dan pemberian hadiah sederhana, seperti makanan kecil, akan membangun asosiasi positif dalam benak anak. Anak akan merasa dihargai dan menganggap bahwa interaksi dengan Al-Qur’an adalah sesuatu yang menyenangkan serta mendatangkan kebaikan bagi mereka. 

Langkah Ketiga: Menghubungkan Al-Qur’an dengan Makna dan Kehidupan

Langkah praktis ketiga yang sering terlupakan oleh orang tua maupun pengajar adalah menghubungkan Al-Qur’an dengan makna dan kehidupan nyata. Fokus pengajaran sering kali hanya tertuju pada teknik membaca, seperti panjang pendeknya bacaan (mad), dengung (ghunnah), serta ketepatan tempat keluarnya huruf (makhraj). Padahal, tugas utama orang tua adalah menyadarkan anak bahwa ayat-ayat yang dibaca dan dihafal sangat relevan dengan kehidupan mereka.

Apabila anak memahami bahwa Al-Qur’an memiliki hubungan erat dengan kesehariannya, rasa cinta terhadap kitab suci ini akan tumbuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu cara efektif adalah dengan menceritakan kisah-kisah di dalam Al-Qur’an menggunakan bahasa yang mudah dicerna.

Contohnya, saat mempelajari Surah Al-Fil, orang tua dapat menceritakan peristiwa pasukan gajah yang hendak menyerbu Ka’bah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

“Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Rabbmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?” (QS. Al-Fil[105]: 1).

Setelah menceritakan bagaimana pasukan yang kuat dan perkasa itu akhirnya hancur seperti daun yang dimakan ulat, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai pelajaran yang bisa diambil. Melalui pancingan pertanyaan tentang kekuatan dan besarnya pasukan tersebut, anak diajak untuk menyadari kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla yang mutlak. 

Kehancuran pasukan gajah disebabkan oleh niat jahat mereka yang ingin menyerang Ka’bah. Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa sekuat apapun sebuah kejahatan, pada akhirnya pasti akan hancur. Oleh karena itu, penting untuk selalu menjadi pribadi yang baik. Contoh lainnya terdapat dalam Surah Al-Lahab yang mengisahkan Abu Lahab, paman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi, ia dipastikan masuk ke dalam neraka sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka).” (QS. Al-Lahab[111]: 3).

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa kedekatan nasab atau hubungan darah tidak memberikan pengaruh apa pun jika tidak diiringi dengan keimanan. Hal ini dapat dibandingkan dengan sosok Salman al-Farisi Radhiyallahu ‘Anhu yang berasal dari Persia, negeri yang sangat jauh. Meskipun tidak memiliki pertalian darah dengan kaum Quraisy, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam justru memuliakannya dengan bersabda:

سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ

“Salman adalah bagian dari kami, keluarga bait (Ahlul Bait).” (HR. Al-Hakim).

Salman menjadi mulia karena keimanannya. Jika anak ingin meraih kemuliaan, maka ia harus beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan menghubungkan Al-Qur’an dengan realitas kehidupan, anak akan terbiasa mengambil pelajaran (ibrah) dari setiap ayat yang dibaca.

Langkah Keempat: Kekuatan Doa Orang Tua

Setelah melakukan berbagai usaha lahiriah, orang tua tidak boleh melupakan kekuatan doa. Hati manusia berada sepenuhnya dalam genggaman dan kendali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang tua dapat membimbing dan mengarahkan anak siang dan malam, namun hidayah serta rasa cinta di dalam hati anak terhadap Al-Qur’an mutlak milik Allah ‘Azza wa Jalla.

Seberapa kuat pun usaha manusia untuk menumbuhkan rasa cinta tersebut, semua tidak akan terwujud tanpa perkenanan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh berhenti mendoakan anak-anak mereka. Sebagai teladan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendoakan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma sehingga beliau menjadi ulama besar umat Islam yang ilmunya bagaikan lautan. Doa tersebut adalah:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir Al-Qur’an.” (HR. Ahmad).

Orang tua sebaiknya tidak bosan mendoakan kebaikan bagi anak-anak mereka dalam berbagai kesempatan, baik saat melepas mereka ke sekolah, saat menemani mereka tidur, maupun saat menghadiri majelis ilmu bersama.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56083-mendidik-anak-mencintai-al-quran/